Dalam beberapa waktu terakhir, kecerdasan buatan (AI) dan industri anime Jepang menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Isu ini semakin memanas sejak tren edit foto bergaya Ghibli menggunakan AI dari ChatGPT menjadi viral. Tren tersebut memicu pro dan kontra, tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tetapi juga dari pelaku industri anime itu sendiri. Salah satu kritik keras datang dari sutradara One Piece, Megumi Ishitani. Bahkan, situs komunitas anime seperti AniList menolak anime buatan AI. Di sisi lain, perusahaan besar seperti Netflix mulai mengimplementasikan AI untuk mempercepat proses dubbing anime ke berbagai bahasa, yang dikhawatirkan dapat mengancam pekerjaan para seiyuu (pengisi suara). Permasalahan ini menjadi cerminan konflik yang kemungkinan besar akan terus bergulir di masa depan seiring kemajuan teknologi AI.
Kini, pembahasan mengenai adaptasi AI dalam industri anime kembali mencuat. Kali ini datang dari perusahaan anime legendaris Jepang, Toei Animation. Setelah sebelumnya sempat menjadi sorotan karena kritik dari salah satu animatornya terkait kualitas audio dalam episode One Piece, Toei Animation kini hadir dengan kabar terbaru mengenai langkah mereka dalam mengadopsi AI.
Toei Animation, bersama dengan Kodansha dan TBS, baru saja menginvestasikan dana besar sebesar 5 miliar yen ke perusahaan rintisan kecerdasan buatan Jepang, Preferred Networks Inc. (PFN). Ketiga raksasa industri hiburan ini berupaya mengintegrasikan teknologi AI ke dalam proses produksi anime, manga, dan televisi secara lebih menyeluruh.
Sejak 2021, Toei Animation telah bekerja sama dengan PFN melalui pengembangan alat bernama Scenify, yang membantu mempercepat pembuatan latar belakang animasi. Kini, mereka berencana melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan AI ke seluruh proses produksi animasi dan bahkan mempertimbangkan pembentukan usaha patungan (joint venture) bersama PFN.
Kodansha ingin memanfaatkan teknologi deep learning milik PFN untuk menciptakan cara-cara baru dalam bercerita dan mendorong batas kreativitas dalam menerbitkan manga dan konten lainnya. Sementara itu, TBS tertarik untuk mempercepat produksi konten mereka dan bereksperimen dengan bentuk ekspresi visual modern.
Didirikan pada tahun 2014, PFN kini menjadi salah satu perusahaan rintisan AI terkemuka di Jepang. Total pendanaan yang mereka peroleh telah mencapai 24 miliar yen, termasuk 19 miliar yen yang dikumpulkan hingga akhir 2024. Beberapa investor besar lainnya meliputi Mizuho Bank, Sumitomo Mitsui Trust Bank, Mitsubishi UFJ Trust, dan perusahaan properti Sekisui House.
Langkah ini merupakan bagian dari tren yang tengah berkembang di Jepang: penggunaan AI untuk meningkatkan efisiensi dalam produksi anime dan manga. Tahun ini, penerbit besar seperti Shueisha, Shogakukan, dan Kadokawa juga ikut berinvestasi sebesar 780 juta yen pada perusahaan yang mengembangkan teknologi penerjemahan manga berbasis AI, demi mempercepat distribusi konten Jepang ke seluruh dunia. Bahkan, Sony pun mengumumkan bahwa mereka akan memanfaatkan AI untuk mempercepat proses produksi anime.
Menurut laporan NHK World-Japan, penggunaan AI generatif di industri hiburan ini terus berkembang karena mampu mengurangi beban kerja para seniman, sehingga mereka dapat lebih fokus pada aspek kreatif. Tanpa diragukan lagi, masa depan industri anime dan manga Jepang semakin erat kaitannya dengan teknologi kecerdasan buatan.
