Film animasi Jumbo menampilkan berbagai karakter, termasuk Meri dan karakter ibu Meri yang diperankan oleh aktris Cinta Laura Kiehl. Latar belakang karakter ibu Meri mengalami perubahan dari konsep awalnya berdasarkan masukan dari Cinta Laura, yang kemudian menghubungkannya dengan periode penting dalam sejarah Indonesia, yaitu Masa Bersiap.
Dari Konsep Awal Hantu Belanda ke Latar Belakang Jerman
Konsep awal karakter (Meri) dalam film Jumbo adalah hantu Belanda. Sutradara Ryan Adriandy menggagas ide ini sebagai pilihan yang paling mudah diambil atau lowest hanging fruit. Namun, ketika Cinta Laura Kiehl memerankan karakter ibu Meri, ia merasa tidak akan otentik jika harus berbicara bahasa Belanda. Alasannya adalah karena ia memiliki keturunan Jerman. Cinta Laura kemudian mengusulkan kepada sutradara agar latar belakang karakternya diubah menjadi orang Jerman demi memberikan penampilan yang otentik. Ia merasa lebih baik menggunakan bahasa yang dikuasainya.
Sutradara Ryan Adriandy menjelaskan bahwa era Meri sebenarnya berada di masa penjajahan. Cinta Laura kemudian melakukan riset, termasuk berdiskusi dengan keluarganya. Ia membawa data dan artikel, yang ia sebut berasal dari pamannya, menunjukkan fakta historis bahwa memang ada banyak orang Jerman di antara para serdadu Belanda pada masa penjajahan itu. Fakta ini, menurut Cinta Laura, tidak akan merusak narasi era persahabatan Meri dan Oma yang terjadi di masa kolonial. Ia bahkan sempat meminta Rian untuk mencari tentang masa bersiap terkait era Meri, menggambarkan periode itu sebagai terlalu dark.
Bagi Ryan Adriandy, masukan dari Cinta Laura ini merupakan trivia yang menarik banget dan fakta-fakta sejarah yang disajikannya membuat cerita menjadi lebih kompleks. Awalnya, konsep hantu Belanda adalah cara yang mudah, tetapi Cinta Laura memberikan fakta sejarah yang mungkin terlewat, menambah kedalaman pada film. Pada akhirnya, sutradara hanya memerlukan beberapa ungkapan bahasa Jerman untuk karakter ibu Meri, seperti kata sayang, yang diucapkan hanya kepada Meri.
Kaitan dengan Masa Bersiap
Masa Bersiap adalah sebuah istilah yang diberikan oleh Belanda untuk merujuk pada kekacauan dan kengerian akibat dari revolusi di Jawa, yang terjadi pada tahun 1945–1947. Periode ini diawali oleh peralihan kekuasaan dari Tentara Kekaisaran Jepang kepada pemerintahan Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Masa transisi ini ditandai dengan terjadinya huru-hara, pembantaian, dan perampokan massal yang dilakukan oleh masyarakat pro-kemerdekaan, seperti Pemoeda dan Pelopor. Dalam kekacauan ini, orang-orang Eropa dan orang Indo menjadi target utama. Namun, banyak juga korban dari kelompok lain seperti orang Maluku dan orang Tionghoa. Kekejaman terhadap orang Indo-Eropa dimulai pada fase kedua Masa Bersiap (15 September – 14 Oktober 1945). Pada tahap ketiga (pertengahan Oktober hingga akhir November 1945), pria dan anak laki-laki Eropa dan Indo-Eropa dikurung, diikuti oleh wanita dan anak perempuan. Serangan terhadap warga sipil Sekutu dan yang diduga pro-Belanda mencapai puncaknya pada bulan November dan Desember 1945. Slogan-slogan eksplisit seperti Matilah Orang Ambon dan Indo! muncul di Batavia.
Dengan demikian, fakta historis yang ditemukan Cinta Laura mengenai keberadaan orang Jerman di antara serdadu Belanda pada masa penjajahan menjadikan latar belakang Jerman relevan secara historis dengan era kolonial yang mencakup masa transisi revolusi pasca-proklamasi kemerdekaan, yaitu Masa Bersiap. Keberadaan orang Eropa (termasuk yang berpotensi berlatar belakang Jerman yang terkait dengan serdadu Belanda) di Hindia Belanda pada akhir masa kolonial dan awal revolusi adalah faktual. Periode Masa Bersiap adalah masa puncak kekerasan di mana orang-orang Eropa, termasuk Indo-Eropa, menjadi target utama. Konteks historis ini, yang mencakup gejolak Masa Bersiap, menjadi latar belakang era di mana karakter ibu Meri dan Meri berada.
Perubahan latar belakang karakter ibu Meri dalam film Jumbo dari konsep awal hantu Belanda menjadi orang Jerman, yang diusulkan oleh Cinta Laura Kiehl karena alasan keautentikan akting dan didukung oleh riset historis tentang keberadaan orang Jerman di antara serdadu Belanda pada masa kolonial, secara menarik terhubung dengan konteks historis Masa Bersiap. Masa Bersiap adalah periode revolusi Indonesia yang penuh kekerasan di mana orang Eropa menjadi target. Perubahan ini tidak hanya memenuhi keinginan aktor untuk otentisitas bahasa, tetapi juga memperkaya narasi film dengan fakta sejarah yang relevan, menempatkan karakter dalam era yang bergejolak dan penuh tantangan bagi individu berlatar belakang Eropa di Indonesia.
